Etos Keilmuan Ibn Hajar sebagai Refleksi Historis bagi Mahasiswa Yordania

Masa ujian tengah semester tinggal menunggu waktu, salah satu fase menegangkan yang harus dilewati mahasiswa di Yordania.

Ketika jadwal ujian sudah ditentukan, suasana ujian seketika tergambar dalam pikiran dan mulai bergerak untuk menata materi ujian, goresan warna-warni tinta pun menandai setiap baris hafalan.

Dengan ditemani secangkir kopi hangat, lembar catatan senantiasa dibaca berulang-ulang dengan harapan mampu menaklukkan soal ujian.

Tekanan ini terasa semakin berat di saat nilai komulatif pada semester sebelumnya tidak mencapai target yang diinginkan. 

Namun, ini bukanlah hal baru bagi para penuntut ilmu. Bahkan, sejarah keilmuan Islam mencatat bahwa para ulama besar yang kita kenal sekarang juga melewati berbagai tantangan dalam proses menuntut ilmu.

Salah satu figur ulama yang layak kita teladani adalah Ibn Hajar al-Asqalani. Tentu saja nama ini sudah tidak asing lagi, terlebih bagi para mahasiswa di Timur Tengah.

Ibn Hajar merupakan sosok ulama besar dengan berbagai karya fenomenal di bidang ilmu hadis dan fiqih. 

Sebelum gelar kehormatan ini beliau dapatkan, Ibn Hajar menempuh perjalanan panjang yang  melelahkan.

Tidak hanya lelah dalam menghafal dan menghadapi ujian, tetapi juga harus memikul beban emosional yang merendahkan dirinya karena jauh tertinggal dari pencapaian teman-teman lainnya dalam pembelajaran.

Selama masa belajar, Ibn Hajar hampir menyerah dan kemudian menemukan semangat kembali saat melihat tetesan lembut air yang mampu melubangi kerasnya batu.

Hal tersebut membuat Ibn Hajar merenungi bahwa kegigihan dan usaha yang terus-menerus dilakukan untuk mengingat pelajaran pasti akan membekas dalam hati dan pikiran sebagaimana air yang selalu menetesi batu hingga berlubang.

Jika kita coba refleksikan proses Ibn Hajar ini dengan kondisi mahasiswa Yordania saat menghadapi ujian, maka dapat tercermin bahwa hasil yang dicapai pada akhir semester merupakan gambaran dari kesabaran dan kedisiplinan selama proses belajar.

Maka dari itu, proses tersebut membentuk diri kita agar mampu bertahan dari kerasnya perjalanan dalam menuntut ilmu. 

Perasaan gagal dan ingin menyerah adalah bagian dari ujiannya, tapi kita harus menemukan cara agar tidak tenggelam pada perasaan itu dan membangun semangat kembali dengan melapangkan hati sehingga pikiran menjadi jernih dan siap menghadapi ujian lagi.

Tentu saja, hal ini tidak mudah dan langsung berhasil begitu saja. Perlu ada latihan dan manajemen emosional yang baik untuk mampu menghadapinya.

Cerita Ibn Hajar ini mengajarkan bahwa ketika menemui kesulitan selama proses menuntut ilmu, maka jangan terpaku pada titik yang menyulitkan itu.

Fokuslah mengelola perasaan sedih karena gagal atau lelahnya bertahan di tengah situasi yang menegangkan dengan rencana matang untuk  bangkit dan belajar lebih giat lagi sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

 

Baca juga: Cahaya Keilmuan Bumi Syam: Dauroh Ilmiah Bersama Grand Mufti Kerajaan Yordania

 

Kontributor: Siti Hapsah

Editor: Faras Azryllah

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *