Peradaban Maju, Tuhan Disingkirkan. Peradaban Mundur, Tuhan yang Pertama Kali Disalahkan. Benarkah Demikian?

Pendahuluan

Agama sudah tidak relevan lagi buat umat manusia, karena manusia sudah berada di puncak kejayaannya dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Banyak persoalan yang sebelumnya masih misteri dan bawa-bawa entitas tertentu, sekarang sudah dijawab dengan lugas dan tuntas oleh para saintis.

Dengan kemajuan Iptek kita saat ini, saya rasa pembahasan tentang eksistensi Tuhan sebaiknya dikurangi atau ditiadakan saja. Ya apa gunanya? toh juga saat kita ditimpa masalah dan sudah berdoa diiringi dengan usaha tetap saja hasilnya sama. Jadi lebih baik kita fokus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan demi mewujudkan keseimbangan dan kemakmuran dalam peradaban. Kalau ada yang tetap ingin membahas Tuhan silahkan jadikan itu ranah privasi bukan untuk ranah publik. Itulah ungkapan yang sering saya dengar baik secara langsung maupun di media sosial.

Di era modern, muncul sebuah ungkapan yang sering dijadikan bahan diskusi sekaligus kritik sosial, yaitu “Peradaban maju, Tuhan disingkirkan. peradaban mundur, Tuhan yang pertama kali disalahkan.”

Kalimat tersebut mengandung paradoks yang menarik. Pada satu sisi, banyak negara maju dianggap berhasil membangun sistem ekonomi, pendidikan, teknologi, dan pemerintahan tanpa menjadikan agama sebagai pusat kebijakan publik. Di sisi lain, ketika suatu masyarakat mengalami kemiskinan, konflik, atau keterbelakangan, tidak jarang agama atau bahkan Tuhan dijadikan kambing hitam sebagai penyebab kemunduran.

Pertanyaannya, benarkah kemajuan suatu peradaban menuntut untuk menyingkirkan peran Tuhan? Sebaliknya, apakah kemunduran suatu masyarakat memang disebabkan oleh agama atau kepercayaan kepada Tuhan?

Esai ini bertujuan menganalisis klaim tersebut melalui perspektif sejarah, sosiologi, filsafat, dan pandangan Islam. Analisis menunjukkan bahwa hubungan antara kemajuan peradaban dan keberagamaan jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan sebab-akibat. Faktor utama kemajuan maupun kemunduran suatu peradaban lebih banyak ditentukan oleh kualitas manusia, tata kelola, ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan sosial. Esai ini berusaha menjawab tiga pertanyaan:

  • Apakah negara maju benar-benar meniadakan Tuhan dan agama?
  • Apakah agama menyebabkan kemunduran sebuah peradaban?
  • Bagaimana Islam memandang hubungan agama dan kemajuan peradaban

Peradaban Maju dan Fenomena Sekularisasi

Dalam kajian sosiologi agama, modernisasi sering dikaitkan dengan proses sekularisasi. Singkatnya, sekularisasi merupakan proses berkurangnya pengaruh institusi agama dalam kehidupan publik.

Beberapa negara Eropa Barat memiliki tingkat religiusitas yang relatif rendah, namun berhasil mencapai tingkat kesejahteraan dan pembangunan yang tinggi. Fenomena ini sering dijadikan dasar argumen bahwa kemajuan hanya dapat dicapai apabila agama dipisahkan dari urusan negara. Urusan kita dengan Tuhan adalah urusan pribadi yang tidak perlu diintervensi dan dibawa ke ranah diskusi. Biarkan masing-masing Individu menjalin hubungan dengan Tuhan berdasarkan versi mereka sendiri.

C.Wright Mills pernah mengatakan bahwa: ”Dunia pernah dipenuhi dengan yang sakral dalam pemikiran, praktik, dan bentuk kelembagaan. Setelah Reformasi dan Renaisans, kekuatan-kekuatan modernisasi menyapu dunia, dan sekularisasi, sebagai proses historis yang mengikutinya, memperlemah dominasi dari yang sakral. Pada waktunya, yang sakral akan sepenuhnya menghilang, kecuali mungkin dalam wilayah pribadi.

Namun, selama dekade terakhir ini, tesis tentang kematian perlahan dan bertahap dari agama semakin banyak dikritik. Teori sekularisasi belakangan ini mendapat tantangan yang paling berat dan serius dalam sejarahnya yang panjang. Para kritikus merujuk pada berbagai indikator dari sehatnya agama dan vitalitas agama sekarang ini yang berkisar mulai dari semakin populernya gerakan-gerakan fundamentalis dan partai keagamaan di dunia Muslim, Munculnya spiritual New Age di Eropa Barat, bangkitnya kembali kalangan Evangelis di seluruh Amerika Latin.

Setelah mengulas berbagai perkembangan ini, Peter L. Berger, salah satu pendukung utama teori sekularisasi selama 1960-an, menarik kembali klaim-klaim awalnya: “Dunia sekarang ini, dengan beberapa pengecualian,… amat sangat religius sebagaimana sebelumnya, dan di beberapa wilayah bahkan lebih religius ketimbang sebelumnya. Hal ini berarti bahwa keseluruhan kepustakaan oleh para sejarawan dan ilmuwan sosial yang secara longgar disebut ‘teori sekularisasi’ pada dasarnya salah.” (Norris & Inglehart, 2011)

Kita bisa lihat bahwa Berger sendiri kemudian merevisi sebagian pandangannya dengan menyatakan bahwa dunia modern ternyata tetap religius. Agama tidak menghilang, melainkan mengalami perubahan bentuk dan perannya dalam masyarakat.

Lebih jauh lagi, banyak negara maju tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang secara historis berasal dari tradisi keagamaan, seperti kejujuran, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kepedulian sosial, disiplin, dan tanggung jawab. Dengan demikian, yang mengalami perubahan bukanlah hilangnya nilai ketuhanan, melainkan posisi agama dalam struktur politik dan pemerintahan.

Apakah Tuhan Benar-benar Disingkirkan?

Ungkapan bahwa Tuhan disingkirkan dari peradaban maju sesungguhnya merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Di berbagai negara maju, kebebasan beragama tetap dijamin oleh konstitusi, walaupun terdapat juga beberapa protes aksi massa yang berkaitan dengan agama tertentu. Akan tetapi, secara umum kebebasan beragama tetap terjaga. Tempat ibadah tetap berdiri, komunitas keagamaan berkembang, dan kegiatan filantropi berbasis agama masih memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.Yang berubah secara gradual adalah pola hubungan antara negara dan agama. Negara tidak selalu menjadikan agama tertentu sebagai dasar hukum, tetapi tetap memberikan ruang bagi warga negara untuk menjalankan keyakinannya (Widiyani, 2022).

Dalam perspektif filsafat politik, hal ini dikenal sebagai prinsip netralitas negara terhadap berbagai agama. Dalam pengertian, negara tidak menyingkirkan Tuhan, tetapi menghindari dominasi satu agama tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan agar seluruh warga negara memperoleh perlakuan yang setara. Oleh karena itu, menyimpulkan bahwa seluruh peradaban maju menyingkirkan Tuhan merupakan generalisasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta empiris. Sebagai tambahan perspektif, manusia adalah makhluk yang bebas berpikir dan disertai dengan tanggung jawab yang berimplikasi pada hasil pemikirannya dapat diuji kembali bukan langsung diyakini. (Munawar-Rachman, 2011)

Ketika Peradaban Mundur, Apakah Agama menjadi penyebab utama?

Sebaliknya, masyarakat yang mengalami kemunduran sering kali menghadapi kritik bahwa agama menjadi penyebab utama keterbelakangan. Kritik tersebut biasanya muncul ketika ditemukan praktik-praktik ekstremisme, penolakan terhadap ilmu pengetahuan, korupsi yang dibungkus simbol agama, atau konflik atas nama agama. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa akar persoalan tersebut bukan terletak pada ajaran agamanya, melainkan pada cara manusia memahami dan mengimplementasikan agama. Hal ini menjelaskan bahwa konflik sosial lebih sering dipengaruhi oleh identitas politik, dan budaya bukan hanya semata-mata ajaran agama (Haidt, 2012)

Kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya supremasi hukum, dan buruknya tata kelola pemerintahan merupakan faktor-faktor yang lebih berpengaruh terhadap kemunduran suatu bangsa dibandingkan tingkat religiusitas masyarakatnya.

Sebagai contoh, terdapat negara yang mayoritas penduduknya religius tetapi memiliki tingkat pembangunan yang tinggi, demikian pula terdapat negara yang sangat sekuler namun tetap menghadapi berbagai persoalan sosial seperti depresi, krisis keluarga, dan rendahnya angka kelahiran. Hal ini menunjukkan bahwa baik religiusitas maupun sekularisme bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan sebuah peradaban.

Perspektif Islam tentang Kemajuan Peradaban

Beberapa orang beranggapan bahwa islam hanya fokus pada perkara ibadah spiritual saja seperti shalat, puasa, zakat, haji tanpa membuka cakrawala ilmu pengetahuan di bidang yang lain salah satunya Sains & Teknologi.

Apakah anggapan mereka itu sesuai dengan apa yang islam ajarkan? Tentu saja tidak. Dalam Islam, kemajuan peradaban justru sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw diawali dengan perintah membaca (Iqra’), yang menunjukkan pentingnya ilmu sebagai pondasi pembangunan peradaban manusia untuk kedepannya. Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk berpikir, meneliti alam semesta, dan mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu. Allah berfirman:

“إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم”

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa usaha manusia juga salah satu faktor penting dalam kemajuan peradaban sosial. Tuhan tidak mengajarkan sikap pasif, melainkan mendorong ikhtiar, inovasi, dan tanggung jawab.

Ayat lain juga menjelaskan bahwa Tuhan menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi yang bermakna pengganti, pemimpin dan pembuat kemaslahatan. Secara tidak langsung, Tuhan memberi amanah yang besar terhadap manusia dalam kendalinya terhadap apa yang ada di dalam bumi. Dalam perspektif islam, setiap perbuatan memiliki konsekuensi moral dan eskatologis berupa pahala bagi yang mematuhinya maupun hukuman bagi yang melanggarnya.

Sejarah Islam juga membuktikan bahwa kejayaan peradaban Islam pada abad ke-8 hingga ke-13 lahir dari perpaduan antara keimanan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Pada masa tersebut berkembang ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu al-Haytham, Al-Farabi, dan Ibnu rusyd. Mereka merupakan tokoh-tokoh yang taat beragama sekaligus memberikan kontribusi besar bagi perkembangan kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat yang membuat islam bukan hanya sekedar agama melainkan sebuah Peradaban besar yang menyebarkan cahaya ilmu pengetahuan pada masanya (Hodgson, 1974).

Dengan demikian, sejarah Islam justru memperlihatkan bahwa iman dan ilmu bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.

Penyebab Kemunduran Peradaban

Sejarawan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan definisi dari solidaritas sosial (‘ashabiyyah) yakni; Semangat kelompok yang menyatukan individu dalam masyarakat, dan mempengaruhi berdirinya negara dan perkembangannya. Ini dianggap sebagai salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi kehidupan sosial dan politik. Ciri-cirinya yaitu persatuan dan kesatuan dalam perlindungan, semangat kebersamaan, kerjasama sosial, serta pengaruh terhadap berdirinya negara dan perkembangannya.

Beliau menjelaskan bahwa kemunduran suatu peradaban disebabkan oleh melemahnya solidaritas sosial (‘ashabiyyah) seperti meningkatnya kemewahan yang berlebihan, ketidakadilan, serta menurunnya kualitas kepemimpinan.

Analisis tersebut tetap relevan hingga saat ini. Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah belum tentu menjadi negara maju apabila tata kelolanya buruk. Sebaliknya, negara dengan sumber daya alam terbatas mampu berkembang pesat apabila memiliki sistem pendidikan yang baik, pemerintahan yang bersih, dan budaya kerja yang produktif. Singkatnya, penyebab utama kemunduran bukanlah keberadaan Tuhan atau agama, melainkan kegagalan manusia dalam menjalankan amanah sebagai pengelola kehidupan (Ibnu Khaldun, 2013).

Analisis Kritis terhadap Ungkapan

Ungkapan”Peradaban maju, Tuhan disingkirkan. Peradaban mundur, Tuhan yang pertama kali disalahkan” memiliki nilai kritik yang cukup kuat terhadap kecenderungan manusia. Pada masyarakat modern, sebagian orang merasa bahwa kemajuan teknologi telah membuat manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kepercayaan diri terhadap kemampuan sains terkadang berkembang menjadi sikap materialistik dan egois yang menganggap agama tidak lagi relevan.

Sebaliknya, ketika masyarakat menghadapi kemiskinan atau bencana, muncul kecenderungan menyalahkan Tuhan dan agama sebagai penghambat kemajuan. Padahal, agama sering kali hanya dijadikan legitimasi oleh individu atau kelompok yang memiliki kepentingan tertentu.

Dengan demikian, yang patut dikritik bukanlah Tuhan ataupun agama, melainkan cara manusia memahami agama dan ilmu pengetahuan. Teknologi tanpa moral dapat menghasilkan eksploitasi dan kerusakan lingkungan. Sebaliknya, agama tanpa ilmu dapat melahirkan fanatisme dan stagnasi intelektual. Kemajuan peradaban yang ideal justru lahir ketika ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan nilai-nilai etika dan spiritualitas juga dilibatkan.

Kesimpulan

Ungkapan “Peradaban maju, Tuhan disingkirkan. Peradaban mundur, Tuhan yang pertama kali disalahkan” mengandung sebagian realitas sosial, tetapi tidak dapat dijadikan kesimpulan universal. Negara maju tidak selalu menyingkirkan Tuhan, melainkan cenderung mengatur hubungan agama dan negara secara berbeda. Di sisi lain, kemunduran suatu masyarakat bukanlah akibat keberadaan agama, melainkan lebih dipengaruhi oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia, lemahnya tata kelola pemerintahan, ketidakadilan, serta kegagalan memanfaatkan ilmu pengetahuan.

Dalam perspektif Islam, Iman dan Ilmu justru merupakan dua fondasi yang saling melengkapi dalam membangun peradaban. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan besar dapat dicapai ketika manusia mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual.

Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah Tuhan harus disingkirkan demi kemajuan, melainkan bagaimana manusia mampu membangun peradaban yang memadukan kecerdasan intelektual, integritas moral, serta tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama manusia yang sesuai dengan nilai-nilai Islam yang memandang kehidupan dunia dan akhirat sebagai satu kesatuan.

Kontributor: Muhammad Fahmi Yasir Amri

Editor: Muhammad Jihadul Azzam

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *