‘Tuhan adalah Boneka’ ”Kritik atas Cara Manusia Membawa Nama Tuhan”

Terkadang, manusia yang terlalu berambisi terhadap dunia akan melakukan berbagai cara untuk melanggengkan tujuannya. Mereka mendobrak batasan demi meraih keberhasilan, baik dengan cara yang benar maupun sebaliknya.

Dalam kondisi tertentu, tidak jarang nama Tuhan turut dibawa untuk melegitimasi niat tersebut, terutama di tengah masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan, baik pendidikan agama maupun nalar kritis.

Gagasan bahwa Tuhan adalah ‘boneka’ pasti terdengar sensitif bagi kita sebagai umat muslim. Namun jika dipahami secara mendalam, kita akan menemukan bahwa fenomena ini kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya dalam beberapa situasi tertentu. 

Sebelum memulai, di sini saya akan memaparkan mengapa umat manusia bisa mengenal konsep tuhan, hal-hal gaib, dan agama, melalui kacamata sains dan sejarah.

Dalam pemaparan ini, mari kita simpan dulu kacamata agama kita, karena jika tidak, maka akan terdengar sangat bertentangan dengan agama yang kita dengar dan pelajari.

Atau kita sebagai umat beragama, terutama Islam, cukup jadikan pemaparan asal-usul di bawah ini sebagai wawasan saja, tanpa mengimaninya. Mari kita berpikir dan memahami dengan objektif.

Pada mulanya, apa yang dikenal sebagai manusia purba adalah makhluk yang penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu yang sangat tinggi.

Selama itu pula mereka selalu memperhatikan segala fenomena alam yang terjadi di sekeliling mereka, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, fenomena air turun dari langit, peredaran rasi bintang, gunung meletus, dan bahkan kematian.

Saat itu mereka belum mengetahui penyebab dari apa yang terjadi di sekeliling mereka, sementara rasa ingin tahu mereka semakin mendesak mereka untuk mengetahui jawabannya. Kemudian mereka mencari jawaban instan dari kebingungan mereka. 

Datanglah kepercayaan animisme dan dinamisme sebagai jawaban. Dilansir dari Wikipedia, animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh yang merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia purba, bahwa benda-benda itu memiliki kekuatan gaib dari jiwa yang harus dihormati, dan dapat memberikan bencana maupun manfaat.

Sedangkan dinamisme adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka, dan biasanya dimasukkan ke dalam benda-benda yang disakralkan.

Kedua kepercayaan ini memiliki benang merah yang sama, yaitu setiap benda memiliki kemampuan dan kekuatan di alam ini. Kepercayaan ini datang dari rasa kagum dan takut mereka terhadap segala sesuatu di atas muka bumi ini. Seperti gunung, langit, lautan, goa, dan sebagainya. 

Kemudian kepercayaan seperti animisme dan dinamisme berkembang menjadi totemisme, dan terus berkembang menjadi kepercayaan akan adanya dewa-dewi, politeisme.

Yakni adanya banyak dewa yang menguasai benda ataupun tempat ataupun peristiwa tertentu dan cerita-cerita epik di baliknya.

Yang paling terkenal adalah dewa-dewi Mesir Kuno, Romawi, Yunani, Nordik, bahkan sebagian masyarakat Nusantara pada jaman dahulu juga memercayainya.

Pada kasus masyarakat Yunani kuno, cerita dewa-dewi datang sebagai penjelasan fenomena alam, cerminan moral dan psikologis manusia, dan sarana pendidikan nilai-nilai kehidupan. Para ahli seperti Mircea Eliade dan Walter Burkert berpendapat,

“Mitologi Yunani adalah cara orang Yunani menjelaskan asal-usul dunia, takdir, dan moralitas melalui cerita yang mudah dipahami manusia.”

Jadi cerita dewa-dewi seperti Cronus yang hendak memakan Zeus, Ikarus dan Dedalus, Prometheus dan Pandora, Aphrodite, Gaia, Apollo, dan lain-lain hanya muncul dari benak mereka sendiri untuk mereka sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang filsuf Edith Hamilton, 

“Orang Yunani menciptakan dewa-dewa mereka dalam citra mereka sendiri, dan yang mereka sembah sebenarnya adalah realitas diri mereka yang diidealkan.”

Pun dengan masyarakat Mesir Kuno ketika mereka bertanya-tanya tentang siang dan malam, maka mereka menciptakan sosok Ra.

Ketika mereka bertanya-tanya tentang kesuburan tanah yang datang dari sungai Nil yang banjir dan surut, mereka menciptakan sosok Hapi.

Kisah Osiris yang mati dan dibangkitkan kembali memberikan harapan bahwa manusia pun bisa hidup setelah mati, menjadi penenang eksistensial tentang hidup dan mati. Margaret Bunson berkata, 

“Orang Mesir hidup bersama kekuatan-kekuatan yang tidak mereka pahami. Badai, gempa bumi, banjir, dan musim kering tampak tak terjelaskan, namun mereka sangat menyadari bahwa kekuatan alam itu berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, roh-roh alam dianggap kuat, mengingat kerusakan yang bisa mereka timbulkan terhadap manusia.”

Kutipan di atas menggambarkan betapa kagum sekaligus tidak tahunya masyarakat Mesir Kuno, atau peradaban lain, terhadap alam.

Dewa-dewi mereka ciptakan sebagai tokoh sentral dalam bentuk personifikasi yang mereka pusatkan, yang mereka limpahkan rasa syukur, terima kasih atas panen dan ‘keberkahan’ ataupun figur tempat mereka memohon ampun ketika terjadi musibah yang menimpa kehidupan mereka. 

Kemudian kepercayaan tersebut berkembang hingga masa kemunculan Yudaisme, Kristen, dan Islam. Kepercayaan-kepercayaan tersebut memiliki legitimasi atas keimanan mereka berupa kitab suci yang masing-masing mereka yakini datang dari satu tuhan, bukan dari banyak tuhan atau dewa seperti masyarakat-masyarakat politeis Yunani maupun Mesir Kuno.

Di sini agama menjadi lebih terpusat keimanannya kepada satu tuhan, yang disebut dengan monoteisme. Entitas yang menciptakan dunia, menerbitkan dan menenggelamkan matahari, menumbukan tanaman, mematikan makhluk hidup, diyakini berasal dari Entitas yang sama, yang satu, yang esa.

Di sini konsep dewa-dewi berubah menjadi konsep ketuhanan meskipun masih menyisakan beberapa konsep dan peran yang sama.

Memang dalam kasus politeisme Yunani dan Mesir kuno menurut pemaparan di atas, Tuhan memang diciptakan manusia, namun itu berubah setelah datang ajaran agama-agama Abrahamik.

Tuhan sendiri adalah segala sesuatu atau Entitas yang disembah. Selama ini, kita menganggap bahwa manusia dikendalikan sesuka hati Tuhan.

Namun di sisi lain, terkadang manusia-manusia yang terbalut hawa nafsu yang mengendalikan Tuhan, seperti boneka, seperti alat,  sesuka hati mereka.

Boneka apa yang dimaksud? Boneka yang digunakan manusia untuk melegitimasi kepentingan, tujuan, nafsu, dan niat buruk mereka.

Manusia menentukan kapan ‘boneka’ ini diam, berfirman, mengasihi, memberkati dan mengutuk.  Di bawah ini adalah pemaparan wajah dari ‘boneka’ Tuhan. 

1. Boneka Konfirmasi

Cara ini sering dilakukan oleh oknum tokoh agama yang terjerat oleh nafsu duniawi akan harta, jabatan, dan kekuasaan.

Mereka menyetir pemikiran pengikutnya bahwa apa yang mereka inginkan sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan.

Misal seorang tokoh agama mewajibkan menyedekahkan setengah dari harta salah seorang pengikutnya untuk dirinya pribadi.

Dengan dalih bahwa mereka adalah tokoh agama yang harus dihormati habis-habisan dan harus menerima pengkhidmatan seluruh pengikutnya, itulah perintah Tuhan. 

Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada kalangan ‘elit’ agama saja, namun pada masyarakat bawah sekalipun mereka tidak luput daripadanya.

Misal lagi seorang suami yang ingin berpoligami namun belum bisa berlaku adil antara dia dan istrinya, meski hanya mempunyai satu istri, apalagi belum bisa menghidupi satu istrinya tersebut.

Sang suami berdalih bahwa berpoligami merupakan perintah Tuhan, tanpa melihat dalil-dalil syarat dan pengecualiannya terhadap orang yang belum bisa berlaku adil bagi istrinya.

Ia hanya mengambil sepenggal kalimat Tuhan bahwa perbuatannya sejalan dengan perintahNya, sesuka hatinya.

2. Boneka Justifikasi

Nama tuhan juga sering dipakai untuk menjustifikasi suatu kelompok yang tidak sejalan dengan kelompoknya. Seolah-olah kelompoknya lah yang paling sejalan dengan Tuhan, sedang kelompok lain tidak.

Mereka mencap sesuatu yang menimpa salah seorang dari selain golongannya berbeda dengan yang dilakukan golongannya. Padahal penyebabnya, jika dipikir secara logika, adalah hal yang sama. Sama-sama salah, atau sama-sama benar, dan hanya Tuhan-lah yang tau apa yang terjadi. 

Contoh kasus di Indonesia adalah jika ada seorang tokoh agama yang terjerat kasus pelanggaran norma, entah pelecehan atau korupsi, pengikutnya akan membela habis-habisan dan berkata bahwa apa yang terjadi adalah ujian dan fitnah, seolah menutup mata dari bukti ril yang sangat jelas di depan mata.

Mereka mengira Tuhan bersama orang yang mereka pikir agamis itu, adalah orang yang maksum dan terbebas dari dosa. Sedang, jika golongan lain yang terjerat kasus yang sama maka akan mereka cemooh dan kutuk bahwa itu adalah azab dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang mereka pikir selalu sejalan dengan mereka.

Bukti semiring apapun mereka percayai untuk merendahkan. Sekali lagi, mereka menggunakan nama Tuhan sebagai boneka untuk mengagungkan golongannya, dan merendahkan golongan lainnya.

3. Boneka Diskriminasi

Diskriminasi memang sudah cerita lama yang hadir dalam peradaban manusia. Secara naluriah manusia memang selalu fanatik dengan golongannya, dan melempar diskriminasi terhadap yang tidak sejalan dengannya, meski Tuhan sendiri melarang diskriminasi kepada sesama manusia, yang tidak beriman kepada-Nya pun. 

Pembangunan rumah ibadah adalah kasus diskriminasi yang membawa-bawa Tuhan, yang paling sering kita temui di berita. Padahal Tuhan sendiri, selain menjelaskan golongan kafir, sudah memerintahkan untuk bertoleransi kepada pengikut agama lain, tapi mereka hanya menggunakan perkataan Tuhan pada pengkafiran saja.

Alhasil banyak rumah ibadah yang diganggu hanya karena mereka ‘kafir’. Di manapun itu, di kawasan mayoritas agama apapun. Mereka memang ‘kafir’ bagi kita, tapi bukan diskriminasi yang harus kita lakukan.

Cukup hargai dan menoleransi ibadah mereka. Tidak hanya antar agama saja, dalam satu agama yang sama tapi berlainan golongan pemahaman pun terjadi diskriminasi. Seperti pembubaran kajian salah satu golongan oleh golongan lain, yang padahal hanya berbeda cabang pemahaman saja.

4. Boneka Deklarasi

Boneka ini dipakai manusia untuk melegitimasi perlakuan tidak adil yang mereka lakukan untuk golongan lain dengan dalih, “Mereka tidak diridhai Tuhan,” atau “Kamilah yang berhak atas hak ini.

Tuhan kami telah menjanjikan ini sejak beribu tahun lalu kepada nabi dari bangsa kami.” Mungkin kasus Israel-Palestina adalah contoh paling jelas dari masalah ini, dengan menganggap bahwa kaum Yahudi-Zionis adalah bangsa superior pilihan Tuhan yang paling berhak terhadap tanah bangsa Arab-Palestina.

Berangkat dari keyakinan teologis menjadi alat legitimasi diskriminasi politik dan rasisme.Poin dari kasus Israel-Palestina terletak pada sah atau tidaknya pemikiran mereka dari segi teologis kelompok yang terdiskriminasi sebagai legitimasi yang sah.

Karena dengan berangkat dari legitimasi teologis yang terlihat abstrak, hal ini membuka gerbang manipulasi yang mengakibatkan dehumanisasi dan pembenaran pelanggaran hak asasi manusia.

5. Boneka Komodifikasi

Boneka terakhir ini mungkin merupakan perincian dari poin pertama, yaitu boneka konfirmasi, dengan hasil yang lebih spesifik yaitu cuan atau keuntungan.

Mereka oknum tokoh agama menggunakan pengikutnya sebagai sumber keuntungan duniawi semata, yang dibungkus dengan firman Tuhan. 

Memang beberapa agama tidak melarang bekerja dari agama, yang perlu dikritisi adalah apakah sumber keuntungan mereka sejalan dengan kebutuhan, misal modal, dan perintah Tuhan.

Apabila sejalan maka diperbolehkan, namun jika tidak maka harus dikritisi. Memang poin ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat beragama, oleh karena itu kita harus menganalisis dari segi rasionalitasnya.

Jika oknum pemuka agama meminta uang dengan nominal tertentu tanpa petunjuk jelas dari agama, atau menjual berkah yang berujung pada pembodohan dan penipuan, maka itulah yang harus kita kritisi.

Mungkin terkadang ada benarnya ungkapan yang tersebar luas di masyarakat bahwa berjualan agama adalah berjualan yang paling mudah, karena hanya dengan dilabeli produk religi, maka orang akan mengantre untuk membelinya dengan menonaktifkan sebentar akalnya daripada mencari petunjuk agama yang valid.

Fenomena sosial yang dipaparkan di atas memang tidak luput dari kehidupan kita, yang mana merupakan tabiat manusia yang selalu ingin akan harta dan kekuasaan.

Artikel ini ditulis bukan untuk membuat kita ragu akan agama dan Tuhan, melainkan untuk mengajak kita semua untuk berpikir kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan kita, terutama lingkungan beragama, dengan membandingkannya dari aspek sosial dan agama sebagai umat yang beriman.

Tidak hanya mengangguk terhadap perkataan tokoh yang membawa-bawa firman Tuhan, karena rawan akan manipulasi yang disetir oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Melainkan kita harus menyeleksinya dengan dalil-dalil agama sebagai pedoman, apakah sejalan atau tidak.

Mari kita berpikir kritis, junjung tinggi toleransi dan kemanusiaan antara agama dan golongan. 

 

Baca juga: Soeharto Bukan Pahlawan: Tumpahnya Darah, Pemberedelan Pers & Pembakaran Buku

https://www.instagram.com/hpmiyordania/

 

Kontributor: Naufal Hammam

Penyunting: Navi’ Vadila

Editor: Faras Azryllah

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *