Seni Memaafkan: Tidak Menghapus, Tapi Melepaskan

Dalam menjalani kehidupan setidaknya kita pernah mengalami satu peristiwa hidup yang menyakitkan karena suatu kesalahan, baik berasal dari orang lain atau diri sendiri.

Beberapa waktu terakhir, kita berada di momen kata maaf dan memaafkan begitu mudah diucapkan.

Akan tetapi apakah semuanya benar-benar selesai begitu saja? Karena dalam beberapa hal, memaafkan jauh lebih sulit dari sekedar meminta maaf. 

Memaafkan bukanlah sebuah momen singkat, ia adalah sebuah proses panjang yang penuh lapisan emosi.

Meminta maaf bisa dilakukan dengan kata-kata, tetapi memaafkan menuntut kita untuk benar-benar berdamai dengan luka yang pernah ada.

Itu berarti kita harus berani menatap kembali rasa sakit, kecewa, marah, dan luka lainnya yang membuat kita tidak nyaman mengingatnya lalu melepaskannya. 

Dalam psikologi, memaafkan adalah proses yang melibatkan pikiran, emosi, dan perilaku, bukan sekadar ucapan. Hal ini tentunya membutuhkan waktu untuk benar-benar selesai di hati. 

Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa tidak bisa memaafkan sekarang bukanlah tanda kita jahat atau buruk. Itu justru menunjukkan bahwa kita sedang jujur pada diri sendiri, bahwa proses penyembuhan belum selesai.

Sama halnya seperti luka fisik, luka batin pun butuh waktu untuk pulih. Ada orang yang bisa cepat memaafkan, ada juga yang membutuhkan waktu lama, dan keduanya sama-sama benar. 

Memaafkan tidak selalu tentang orang lain, karena bentuk memaafkan yang sering kali lebih berat adalah memaafkan diri sendiri.

Kita pernah salah mengambil keputusan saat kita tidak punya cukup pemahaman. Kita juga pernah salah berbuat, melakukan sesuatu yang pada akhirnya justru melukai diri sendiri.

Rasa bersalah itu bisa lebih kuat daripada luka yang datang dari luar, karena kita berhadapan dengan ekspektasi yang kita buat untuk diri kita sendiri.

Dan satu hal yang bisa kita lakukan adalah menerima bahwa semua itu merupakan bagian dari proses hidup, lalu belajar untuk memaafkan diri sendiri. 

Jika memaafkan orang lain berarti melepaskan kendali atas masa lalu, maka memaafkan diri sendiri adalah tentang memberi izin untuk tetap melangkah ke masa depan. 

Namun, apakah memaafkan berarti harus melupakan? Tidak. 

Memaafkan bukan tentang menghapus apa yang terjadi, tetapi tentang tidak lagi membiarkan masa lalu itu melukai kita di masa sekarang.

Dengan kata lain, memaafkan tidak sama dengan melupakan. Justru, memaafkan sering kali berarti tetap mengingat, namun memilih untuk tidak lagi terikat pada luka itu. 

Kalau dipikirkan, melupakan bisa terjadi tanpa memaafkan, tapi memaafkan selalu membuat kita lebih siap untuk melupakan rasa sakitnya. 

Dan pada akhirnya, melupakan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah berdamai dengan diri sendiri, bahwa apapun yang sudah terjadi tidak lagi membuat kita terus menyalahkan diri sendiri.

 

Baca juga: Ketegasan: Wajah Lain dari Kasih Sayang dalam Pendidikan

https://www.instagram.com/hpmiyordania/

 

Kontributor: Ashfa Nafilatir Rohmaniyah

Editor: Faras Azryllah

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *