DARI CANDAAN TONGKRONGAN KE PEWAJARAN: Memahami Salah Satu Akar Terjadinya Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual tidak ujug-ujug muncul begitu saja, ia tumbuh dari hal-hal yang dianggap kecil, hal-hal yang dianggap normal padahal tidak, juga pembiaran-pembiaran terhadap itu.

Kekerasan seksual muncul dari banyak faktor, salah satunya adalah obrolan-obrolan cabul di tongkrongan, bercandaan perihal perkosaan, sikap merendahkan perempuan, serta menyalahkan korban kekerasan seksual atas apa yang terjadi. (Percayalah, tidak ada satu pun yang berharap menjadi korban kekerasan seksual, kamu pun begitu)

Mungkin kamu saat di tongkrongan merasa candaan-candaan itu biasa saja dan hanya sekadar candaan. Tapi kamu tidak pernah tahu isi kepala setiap orang yang duduk bersamamu, bisa jadi ada yang memaknai itu berbeda dan menjadikannya pembenaran, paling buruknya benar-benar dilakukan.

Terdengar seperti sangat sederhana dan remeh temeh, tapi pada kenyataanya itulah salah satu faktor terjadinya kekerasan seksual yang jarang kita sadari, meskipun sering kita jumpai atau tanpa disadari kita lakukan saat berkumpul bersama; di tongkrongan, WhatsApp group atau saat kumpul keluarga.

Sudah seharusnya kita berhenti dari obrolan serta candaan seperti itu, tidak semua orang nyaman akan hal tersebut. Jika ada yang memulai, mari saling menegur dan mengingatkan bahwasanya hal-hal seperti itu bukan dan tidak pantas untuk dicandakan agar tidak terjadi pewajaran.

Sebab candaan-candaan cabul seperti itu jika terus dilakukan bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk menuju kepada kekerasan seksual.

Menyalahkan korban dengan kata-kata seperti “bajunya sih begitu, pantes dilecehin”, “pulangnya sih malem terus” juga mesti dihentikan, hal ini memberi legitimasi pada pelaku bahwa ia tidak benar-benar bersalah atas apa yang dilakukan dan membuat korban takut untuk melaporkan apa yang dialami.

Pada faktanya, dalam artikel BBC News Indonesia ada temuan survei, mayoritas korban pelecehan seksual di ruang publik tidak mengenakan baju terbuka, melainkan memakai celana atau rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%).

Hasil survei juga menunjukkan waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%).

Mari kita mulai menambah wawasan dan edukasi mengenai kekerasan seksual. Kita bisa memperoleh itu dari buku, artikel, film, konten vidio pendek, atau podcast untuk menambah pemahaman kita perhal itu.

Tidak ada alasan untuk tidak melakukan itu, karena di era kita sekarang, informasi lebih mudah diakses dan diperoleh dari pada makanan.

Sudah seharusnya juga kita meninggalkan kata atau istilah yang melecehkan seperti tobrut dan hal-hal yang berbau sama seperti itu.

Berhenti menyudutkan korban dan mulai melihat orang lain sebagai benar-benar manusia yang mempunyai hak untuk dihargai dan dimanusiakan. Bukan melihat hanya sebagai setumpukan daging yang bisa dilukai dan dikuasai seenaknya sebagai objek seksual.

Begitu naif jika melihat kasus kekerasan seksual terjadi hanya karna individu pelaku yang dianggap sakit dan amoral. Perlu kita sadari dan akui juga ada peran kelalaian kita yang membiarkan atau bahkan memupuk akarnya agar tetap ada. Sudah waktunya berbenah diri dan lebih peduli lagi.

Sebab banyak kasus terjadi dan terus terjadi karena ketidakpedulian & kurangnya informasi mengenai kekerasan seksual.

Mari kita mulai mengedukasi diri sendiri dan terus tanamkan dalam otak serta hati bahwasnya tidak ada yang berhak atas tubuh seseorang selain orang itu sendiri. Tidak ada ruang untuk kekerasan seksual, bangun ruang aman dan nyaman untuk semua.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk solidaritas kepada para korban dan pengingat untuk kita semua. Tulisan ini juga masih dangkal dan banyak kekuruangan, hanya membahas secara garis besar, tidak detail, dan tidak semua faktor.

 

Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49014401

https://www.tbsfightforsisterhood.co.id/

https://archive.org/details/kekerasan-seksual/page/4/mode/1up

 

Baca juga: Tegakkan Kembali Norma Interaksi Mahasiswa di Yordania! Melanggar, Deportasi!

 

Kontibutor: Raka Amarullah

Editor: Faras Azryllah

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *