Dalam hitungan jam, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, ampunan, dan kesempatan untuk meningkatkan pahala dalam setiap amal ibadah.
Salah satu hal yang penting dalam menyambut Ramadhan adalah menyiapkan hati, menyambutnya dengan sukacita, dan menebar maaf kepada sesama.
Bagi umat Muslim, datangnya bulan suci Ramadhan ini menjadi kesempatan baik untuk bersilaturahmi, mengunjungi keluarga, tetangga, dan teman.
Dengan saling berbagi kebahagiaan dan memohon maaf, hati menjadi lapang sehingga ketika Ramadhan tiba, ibadah dapat dijalani bersama dengan penuh khidmat.
Beberapa hal yang perlu dilakukan sembari menunggu Ramadhan tiba antara lain sebagai berikut.
Pertama, saling memaafkan.
Sebelum Ramadhan tiba, sebaiknya setiap Muslim menyiapkan diri dengan membersihkan hati, yaitu meminta ampun kepada Allah melalui tobat dan meminta maaf kepada sesama manusia.
Orang yang terlebih dahulu meminta maaf akan mendapatkan nilai lebih karena menunjukkan ketulusan dan kesadaran.
Dalam kehidupan sosial, tidak jarang terjadi salah paham atau perselisihan. Meminta maaf sebelum Ramadhan berarti menutup pintu konflik dan membuka ruang hati yang bersih untuk menjalani ibadah.
Hal ini selaras dengan ajaran Al-Qur’an, misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 178, yang menekankan pentingnya menepati hak dan tanggung jawab.
فَمَنۡ عُفِىَ لَهٗ مِنۡ اَخِيۡهِ شَىۡءٌ فَاتِّبَاعٌۢ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَاَدَآءٌ اِلَيۡهِ بِاِحۡسَانٍؕ ذٰلِكَ تَخۡفِيۡفٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَرَحۡمَةٌ ؕ فَمَنِ اعۡتَدٰى بَعۡدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۚ
“…. barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan dalam hadis sahih bahwa siapa pun yang memiliki tanggungan terhadap orang lain sebaiknya segera menyelesaikannya di dunia, baik dengan menunaikan hak, meminta kehalalan, maupun meminta maaf.
Karena di akhirat tidak ada kesempatan lagi untuk menebus tanggungan itu, dan setiap amal saleh akan dipergunakan untuk menutupi tanggungannya.
Kedua, menyambut Ramadhan dengan kegembiraan.
Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menyambut Ramadhan dengan sukacita. Kebiasaan ini juga dilakukan para ulama dan orang-orang saleh.
Mengetahui keutamaan Ramadhan yang tidak dimiliki bulan lain seharusnya menjadi kabar gembira yang membangkitkan semangat iman.
Hal ini bisa dilihat dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya sebagai berikut.
حَدَّثنا عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثنا عَفَّانُ، حَدَّثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثنا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Affan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayyub telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qiladah, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya, “Bulan Ramadhan telah datang. Ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa atas kalian. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu di dalamnya. Di dalam bulan Suci Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Orang yang menghalangi kebaikan di dalam bulan Suci Ramadhan ini, maka dia akan terhalang dengan kebaikan.”
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda bahwa puasa dilakukan atas dasar iman dan dengan harapan pahala dari Allah (ihtisab).
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Menurut penjelasan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, puasa dengan iman berarti menjalankan kewajiban puasa karena meyakini perintah Allah, sementara ihtisab berarti menunaikan puasa dengan harapan pahala dari-Nya.
Dengan hati yang bersih, penuh sukacita, dan semangat menebar maaf, Ramadhan akan menjadi momen paling indah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat silaturahmi sesama manusia.
Baca juga: Zawiyah Fiqh Amman Menyelesaikan Kajian Kitab Adab Sulukil Murid Karya Imam al-Haddad
Kontributor: ‘Imaduddin Roshief
Penyunting: Navi’ Vadila
Editor: Faras Azryllah

Akun Resmi HPMI Yordania, dikelola oleh Kementerian Komunikasi & Informasi







