#MajuSatuTuju

Pernahkah kamu berada di satu ruangan dengan seseorang yang sangat pandai ilmu agama, tetapi alih-alih merasa damai, kamu justru merasa cemas dan ingin segera pergi?
Secara teori, agama hadir untuk membawa ketenangan. Orang yang berilmu tinggi idealnya menjadi peneduh—seperti pohon rindang di tengah terik siang. Namun dalam realitas sehari-hari, tidak sedikit dari kita yang justru merasa “kerdil”, terintimidasi, bahkan merasa terus-menerus dinilai saat berhadapan dengan orang yang berlabel “paham agama”.
Mengapa pengetahuan yang begitu luhur justru bisa memicu ketidaknyamanan pada orang lain?
1. Perangkap Spiritual Superiority
Ada jebakan halus saat seseorang mulai menguasai banyak dalil, kitab, atau istilah-istilah keagamaan. Tanpa disadari, ilmu tersebut bisa berubah dari alat pembersih hati menjadi piala ego.
Fenomena ini sering disebut sebagai spiritual superiority complex, yaitu perasaan lebih unggul secara spiritual dibandingkan orang lain. Ketika seseorang merasa posisinya lebih dekat dengan Kebenaran, ada dorongan tak terlihat untuk memandang orang lain sebagai pihak yang perlu diperbaiki, pihak yang salah, atau sekadar orang awam yang belum paham.
Ketika interaksi didasari oleh perasaan lebih tinggi, lawan bicara dapat langsung merasakannya. Bukan karena ajaran agamanya yang keliru, melainkan karena ada nada merendahkan yang terselip di balik nasihat-nasihat manis.
2. Empathy Gap
Semakin jauh seseorang mendalami ilmu dan literatur, semakin besar pula risiko munculnya empathy gap—lupa rasanya menjadi orang yang sedang berjuang di bawah.
Mereka lupa bahwa tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang sama, memiliki akses terhadap ilmu yang sama, atau melewati pergulatan batin yang serupa. Akibatnya, jawaban yang diberikan sering kali terasa kaku dan mekanis, seperti:
- “Harusnya kamu tinggal…”
- “Kan hukumnya sudah jelas…”
- “Kamu kurang yakin saja itu…”
Solusi serba instan yang dibungkus teks agama tanpa terlebih dahulu memahami rasa sakit, kebingungan, atau proses hidup seseorang, justru membuat komunikasi terasa dingin dan berjarak.
3. Komunikasi yang Menghakimi
Perbedaan terbesar antara ilmu yang melunakkan hati dan ilmu yang memicu ketakutan terletak pada adab dalam menyampaikannya.
Orang yang mengayomi akan menggunakan ilmunya untuk merangkul dan memahami konteks. Sementara orang yang tergesa-gesa ingin “menyelamatkan” orang lain sering kali lupa mendengarkan. Mereka tidak benar-benar menyimak cerita lawan bicaranya, tetapi mereka hanya sedang menunggu giliran untuk menyampaikan koreksi.
Ketika setiap percakapan santai berubah menjadi arena pencerahan moral yang tidak diminta (unsolicited advice), orang-orang di sekitarnya perlahan akan mulai membatasi diri. Mereka takut menjadi diri sendiri, takut terlihat cacat, dan khawatir cerita pribadinya dijadikan bahan analisis spiritual.
Dampaknya: Jarak yang Makin Lebar
Dampak paling menyedihkan dari fenomena ini bukan sekadar canggung dalam bergaul, melainkan spiritual burnout yang dapat dialami orang lain.
Banyak orang yang akhirnya menjauh dari lingkungan agama bukan karena mereka membenci ajarannya, melainkan karena mereka lelah merasa “tidak pernah cukup baik” di mata orang-orang yang mengatasnamakan agama. Kesucian yang ditampilkan tanpa keramahan justru dapat melahirkan rasa terasing.
Refleksi Akhir
Ilmu tanpa empati adalah tembok; ia memisahkan dan membatasi. Sementara ilmu yang disertai kerendahan hati adalah jembatan; ia menghubungkan dan menyembuhkan.
Jika hari ini kita berada pada posisi sebagai orang yang sedang mempelajari ilmu agama, mungkin ada baiknya kita selalu melontarkan satu pertanyaan jujur pada diri sendiri sebelum menasihati orang lain:
“Apakah aku menyampaikan ini karena benar-benar peduli pada dirinya, atau hanya untuk memuaskan egoku agar terlihat benar?”
Sebab, pada akhirnya, orang mungkin tidak akan selalu ingat berapa banyak ayat atau teori yang kita hafal. Namun, mereka akan selalu ingat bagaimana perasaan mereka saat berada di dekat kita: apakah mereka merasa diterima, atau justru merasa dibuang?
Bagaimana pengalamanmu sendiri? Pernahkah kamu berada di posisi merasa tidak nyaman dengan orang yang “terlalu pandai ilmu agama”? Tulis pengalaman atau pandanganmu di kolom komentar.
Kontributor: Aleea Avere
Editor: Muhammad Jihadul Azzam

Akun Resmi HPMI Yordania, dikelola oleh Kementerian Komunikasi & Informasi
