2025 sudah sampai pada tenggatnya. 365 hari sudah terlewat, berlalu, dan 365 hari yang baru datang menunggu di 2026.
Pergantian tahun ini terasa tidak biasa, bukan karena begitu menyenangkannya 2025, tetapi karena begitu babak belurnya pergerakan-pergerakan warga sipil dalam menuntut hak-nya.
Jika dinisbatkan pada sebuah lagu untuk peralihan tahun 2025 ke 2026, maka “Bersemi Sekebun” dari Efek Rumah Kaca adalah soundtrack yang cocok untuk itu.
Efek Rumah Kaca, band indie rock asal Jakarta, tak hanya membawakan lagu-lagu tentang cinta dan persahabatan seperti band-band sejamannya, tapi juga membawa isu-isu dan gagasan perihal sospol, kemanusiaan, juga rohaniah.
Cholil Machmud, vokalis sekaligus penulis lirik lagu Bersemi Sekebun, bercerita di sebuah kanal YouTube bahwa lagu ini terinspirasi dari demo Omnibus Law 2020, demo terbesar setelah masa Reformasi 1998.
Gagasan yang dibawa dalam lagu ini adalah tentang bagaimana warga selalu gagal dalam menuntut setiap haknya, selalu jatuh dalam perjuangannya.
Tapi dari kegagalan-kegagalan itu ada kemenangan-kemenangan kecil yang muncul dan tumbuh di sela-sela tumpukan kegagalan itu.
Kemenangan-kemenangan kecil seperti adanya kesadaran politik bukan cuma di lapisan mahasiswa dan aktivis, tapi menembus sampai ke lapisan pelajar SMK dan masyarakat awam.
Lirik yang deskriptif namun tetap puitis di awal lagu membawa kita kembali ke lerung ingatan tentang bagaimana keosnya demo di 2020.
Akhirnya tercerai, kau jatuh terjerembap
Dalam selokan
Diayunkan senapan
Kau saksikan
Langit hitam
Asap mengepul ke udara
Laras panjang hantam kepala
Nasion di atas manusia
Pecah berserakan cinta
Bagaikan di taman
Kanon air melengkung di angkasa
Menghujam, memberai
Satu gugur
Bersemi sekebun
Tempo yang lambat, tanpa dentuman drum yang kencang dan tanpa distorsi, namun tetap bisa menyalurkan emosi kemarahan, kekecewaan, juga harapan.
Alunan musik yang tenang namun terasa mencekam. ERK berhasil membuat musik yang membungkus pesan juga gagasan tersebut menjadi lebih begitu terasa. Saya menyebutnya marah dengan begitu dewasa.
Yang membuat lagu ini menjadi tambah istimewa adalah kolaborasinya dengan Morgue Vanguard a.k.a. Ucok Homicide a.k.a. Herry Sutresna, living legend rapper asal Bandung.
MV yang biasanya membawa bars dan rhymenya dengan berapi-api, dalam lagu ini membawakan tumpukan bars-nya dengan begitu tenang, bahkan lebih tepat disebut membaca puisi di tengah-tengah lagu. Namun hal inilah yang memberi lagu ini lebih bernyawa dan menjadikannya lebih magis.
Meski sudah 2 tahun lebih dari tahun rilisnya, gagasan di lagu ini masih berasa begitu relevan dan cocok untuk mengisi peralihan tahun yang luluhlantah ini.
Dari tagar serta aksi peringatan darurat dan Indonesia Gelap di Februari, aksi penolakan Revisi RUU TNI di Maret, demo Hari Buruh yang penuh kriminalisasi di Mei, aksi demonstrasi besar dari Agustus hingga September, penangkapan massa aksi dan aktivis yang hari ini belum semua bebas, penolakan gelar pahlawan Soeharto, juga lambatnya penanganan bencana di Sumatra.
Masyarakat sipil terus gagal dan jatuh di setiap perjuangannya. Tak ada hasil besar dari setiap aksi, bisa dibilang nihil. Namun ada kemenangan-kemenangan kecil. Muncul benih-benih kesadaran perihal hak yang hilang di setiap lapisan kelas masyarakat, tumbuh cara-cara baru untuk terus menyebarkan keberanian juga edukasi: lewat video singkat, meme, atau video lucu, dan macam-macam kesenian. Dan semakin kuatnya akar semangat warga bantu warga.
Saya, kamu, juga kalian sebagai diaspora yang berstatus mahasiswa yang katanya terpelajar, mempunyai tanggung jawab moral lebih untuk menyebarkan kesadaran bersama.
Tidak harus dimulai dengan aksi besar atau harus dengan jumlah yang banyak. Cukup dimulai dengan berisik di sosmed masing-masing, obrolan diskusi di sela-sela jam kosong di kantin jamiah, di ruang tengah rumah, lewat macam-macam kesenian seperti stand up comedy, puisi, atau tulisan-tulisan pendek di website HPMI, agar kesadaran bersama tentang hak-hak kita yang hilang terus mengakar lebih jauh, lebih kuat, lebih kencang, sampai akhirnya kita semua bersemi sekebun.
Karna 365 hari ke depan di 2026 mungkin hutan, juga tanah adat, menjadi ladang bagi pemodal. 365 hari ke depan mungkin kita akan dirudapaksa negara lagi. 365 hari ke depan mungkin kita akan diludahi polisi. 365 hari ke depan mungkin kita akan sama-sama mencumbu lebam biru dari luka yang tak kunjung sembuh. 365 hari ke depan mungkin akan sama atau lebih buruknya. Namun seperti ujung lagu Bersemi Sekebun:
“Bertahanlah sedikt lebih lama, tumbuhlah liar serupa gulma”
Video musik Bersemi Sekebun: https://youtu.be/If0-PMxGnm8?si=RpLOFt6LZYUi7ZyK
Podcast Efek Rumah Kaca dengan Soleh Solihun: https://youtu.be/nqcvLDdpE9E?si=dP3PY_K1TOrj-aq9
Baca juga: Soeharto Bukan Pahlawan: Tumpahnya Darah, Pemberedelan Pers & Pembakaran Buku
Kontributor: Raka Amarullah
Editor: Faras Azryllah

Akun Resmi HPMI Yordania, dikelola oleh Kementerian Komunikasi & Informasi







